Popular Post

Trafic

Facebook

Blog Archive

Facebook Follow

Layaknya sebuah persahabatan dalam film. Ini pun terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dua orang yang telah bersahabat kini akan dipisahkan demi kelancaran karirnya masing-masing. 

Sebut saja namanya Dina dan Dini, dua orang yang bersahabat sejak masa kuliah ini telah mengalami hal-hal yang menyenangkan dan menjengkelkan dalam perjalanan hidupnya. Persahabatan ini telah dijalin kedua perempuan lajang yang telah mengalami suka duka kehidupan. Dengan latar belakang pendidikan yang sama dan hobi yang nyaris sama, mereka berdua mencoba melamar ke tempat bimbingan belajar yang dirasa sangat pas dengan kemampuan yang dimiliki. Di luar dugaan keduanya diterima dalam tempat yang sama. Namun, saat akan melaksnakan test pada lembaga pendidikan tersebut, terdapat sebuah penyimpangan yang dilakukan pihak penguji yang juga sebagai pengelola lembaga. Bentuk penyimpangannya sangat mencoreng latar belakang orang tersebut yang notabene lulusan perguruan tinggi negeri teknik terkemuka di Bandung.

Dengan sangat polos satu perempuan itu masuk dalam ruang pengujian. Memang awalnya tidak terlihat ada keganjilan, namun seiring dengan waktu dan muncul kecurigaan pada hati kecilnya kenapa harus dikunci ruangan ? tanyanya dengan nada heran. Ternyata sesaat setelah dikunci si pengelola menanyakan identitas diri berkaitan dengan fisik. Bahkan beberapa pelamar ditanya lebih spesifik tentang identitas fisiknya. "Ini jelas tidak bisa diterima," berontak saya dengan raut muka kecewa. Kejadian ini segera di informasikan kepada sahabat saya yang beberapa saat akan di test. Keduanya sepakat meninggalkan tempat itu dengan semangat mudah-mudahan akan ada tempat lain yang masih punya hati nurani dan punya etika. Keduanya sepakat apa yang telah terjadi sebelumnya tidak mewakili institusi lembaga bimbingan belajar secara keseluruhan. Ini hanya bagian kecil penyimpangan yang tidak bisa disamakan dengan yang lainnya.

Waktu semakin cepat, seiring usia pun semakin bertambah. Dina yang akhir-akhir ini sedang gembira karena telah dilamar oleh pria pujaannya tidak tega melihat sahabatnya belum juga mendapat "sang arjuna". Meski begitu Dini sadar mungkin takdirnya belum saatnya menjalin bahtera rumah tangga saat ini.

Dina dan Dini pun terlihat akrab dalam pergaulan sehari-hari. Satu waktu keduanya melamar ke sebuah lembaga bimbingan belajar. Kali ini keduanya optimis akan mendapatkan apa yang diimpikannya. Meski tidak mendapat perlakuan yang menyimpang, tetap saja keduanya mendapatkan beban yang tidak ringan dan super sibuk. Mulai dari mencari tempat yang representatif, membagi brosur, mencari peserta, hingga memasak untuk anggota keluarga pemilik. Lembaga pendidikan kali ini memang masuk dalam jajaran "franchise" yang katanya bagus manajemennya. Kenyataannya sistem yang diterapkan di lapangan tidak sesuai dengan standarisasi ideal yang telah disepakati seluruh cabang. Awalnya menyenangkan, namun tiba-tiba keduanya menyadari telah dipekerjakan tanpa batas oleh pemilik lembaga.

Kondisi rumah yang sangat luas mengharuskan keduanya melaksanakan tugas ke rumahtanggaan sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Aktivitas sehari-hari biasanya dimulai dengan membersihkan lantai, hingga belanja untuk kebutuhan sehari-hari. Pemilik lembaga ini memang masuk ketegori keluarga muda. Suaminya beraktifitas sebagai pemilik yang selalu sibuk berkoordinasi dengan kantor pusat dalam rangka pengembangan lembaga yang dimilikinya, serta aktivitas lainya. Sedangkan istrinya meski terlihat sehat kerap membebankan segala urusannya kepada kedua orang tersebut. Perasaan tidak puas kembali menghinggapi keduanya. Bahkan ada keinginan meninggalkan lembaga tempat mencari rizkinya karena sudah tidak kuat lagi dengan perlakuan majikan yang dengan seeneknya memberi perintah melampaui batas wewenangnya. Dengan perasan bersalah, firasat dalam hatinya itu diwujudkan dengan menghadap pihak pengelola bahwa keduanya sepakat untuk berhenti dari aktivitas sekarang karena ada kepentingan lainnya yang tidak bisa ditinggalkan, dalih keduanya. 

Perasaan cape yang menghinggapi keduanya kini makin berkurang, giliran sekarang akan menjalani kehidupan baru dengan melamar pada lembaga bimbingan belajar yang dinilai sangat arif dan bijaksana. Seiring waktu berlalu keduanya terlihat menikmati aktivitas baru di tempat yang baru pula. Kondisi lembaga terlihat sederhana, tapi dengan manajemen yang kooperatif serasa berada dalam lembaga yang besar. Hubungan satu sama lain terlihat akrab, bahkan makan pun kerap ingin dilakukan bersama-sama. Keduanya kembali di uji dengan sebuah keputusan manajemen yang menjelaskan tempat yang sekarang ini ditempati kontraknya akan berakhir hingga tahun 2006 mendatang. Pihak manajemen menginginkan Dina dan Dini bisa ditempatkan dimana pun tempat yang telah ditentukan manajemen .

Setelah mendengar keputusan yang mau tidak mau harus diterima, keduanya terlihat menangis tersedu-sedu. Meski begitu ternyata sikap kedua orang ini berbeda. Dini misalnya, dirinya tidak masalah ditempatkan dimana pun selama itu untuk kebaikan semua. Sebaliknya Dina terlihat tidak rela berpisah dengan sahabatnya. Akibatnya Dina dengan berat hati mengundurkan diri dan sahabatnya tetap menerima keputusan manajemen yang dinilai sebagai sebuah pembuktian komitemen.

Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran betapa persahabatan itu memang sangat perlu. Namun tidak selamanya terus bersama. Ketika masing-masing akan melangkahkan karirnya, maka secara dewasa harus bisa saling menerima keputusan itu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Puisi Nhae™ - Kurumi Tokisaki - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -