Popular Post

Trafic

Facebook

Facebook Follow

Recent post

Archive for Juni 2011

"Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yang tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. 
Mereka ialah:

1. Ayahnya

Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak-anak perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar shalat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia sahaja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya. (p/s; Duhai lelaki yg bergelar ayah, bagaimanakah hal keadaan anak perempuanmu sekarang?. Adakah kau mengajarnya bershalat ... ..menutup aurat?.. pengetahuan agama?.. Jika tidak cukup salah satunya, maka bersedialah untuk menjadi bahan bakar neraka jahannam.)

2. Suaminya

Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yang alim dimana shalatnya tidak pernah bertangguh, maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam neraka. (p/s; Duhai lelaki yang bergelar suami, bagaimanakah hal keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya mengikut ketetapan syari'at, maka terimalah hakikat yang kau akan sehidup semati bersamanya di "taman" neraka sana.)

3. Abang-Abangnya

Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya sahaja dan adiknya dibiarkan melencong dari ajaran Islam, tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak. (p/s; Duhai lelaki yang mempunyai adik perempuan, jangan hanya menjaga amalmu dan jangan ingat kau terlepas... kau juga akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak... jika membiarkan adikmu bergelumang dengan maksiat... dan tidak menutup aurat.)

4. Anak2 lelakinya

Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram disisi Islam. bila ibu membuat kemungkaran mengumpat, memfitnah, mengata dan sebagainya... maka anak itu akan disoal dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.... dan nantikan tarikan ibunya ke neraka. (p/s; Duhai anak-anak lelaki.... sayangilah ibumu.... nasihatilah dia jika tersalah atau terlupa.... karena ibu juga insan biasa... yang tak lepas dari melakukan dosa... selamatkanlah dia dari menjadi "kayu api" neraka.... jika tidak, kau juga akan ditarik menjadi penemannya.).................................................. Lihatlah..... betapa hebatnya tarikan wanita bukan sahaja di dunia malah diakhirat pun tarikannya begitu hebat. Maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.

Firman Allah S.W.T;

"Hai anak Adam, peliharalah diri kamu serta ahlimu dari api neraka dimana bahan bakarnya ialah manusia, jin dan batu-batu...."
Cinta adalah Pengorbanan...
Cinta menjadikan sesuatu yang berat menjadi Ringan...
Yang Sulit menjadi mudah...
Bahkan yang Pahit pun Terasa Manis...
Jikalau sudah membara Cinta di Hati ....
dan Cinta kan berbuah Rindu....
Rindu akan menggelorakan Semangat Berbuat dan Berkorban Lebih....
Dan Siapakah yang lebih layak mendapatkan Semua Perbuatan dan Pengorbanan Qta...
Dia Allah yang menciptakan dan Menjamin Qta....
Allah yang tiada Pernah Terputus memberi Nikmat Walaupun Qta Masih Berkhianat...
Tiada Keindahan Rindu yang Berbuah kebaikan yang membuat kebahagiaan yang berbuah Kemulian....
Selain Rindu Kepada ALLAH SWT...
Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, mengalahkan tumpukan emas, intan dan permata serta perhiasan dunia apapun. Hanya wanita shalihlah yang mampu melahirkan generasi robbani yang selalu siap memikul risalah Islamiyah menuju puncak kejayaan.

Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rosulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”.(HR.Muslim).

Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make-up nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.

Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).

Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.

Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Alloh semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya.

Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.

Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan suatu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.

Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make-up apa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make-up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.

Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rosulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rosulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rosulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.

Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah tiba-toba muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses. Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Alloh. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.

Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahromnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman disekelilingnya. ”

Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.

Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita.

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rosululloh saw bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).

Wallahu’alam.

Bilakah rindu melayang menghampiri cinta...
Maka datangnya lah keriangan yang tak terhenti..
Jikalau cinta menanti rindu..
Maka rekatkan nya dengan kesabaran..
Subhanallah..kerinduan memang tidak pernah lepas dengan yang namanya cinta, dimana ada rindu disitu ada cinta yang terlampir. Namun rindu itu akan menjadi indah ketika diberikan pada cinta sejati diatas sebuah pernikahan.

Jika rindu itu sudah terbalut dengan cinta yang belum halal, rindu pada lawan jenis, rindu itu hanya akan menjadi sebuah penjara yang menyakitkan. Kata para pujangga cinta, rindu itu seperti luka yang menganga, seperti langit malam tanpa bintang, seperti pintu yang tak pernah terketuk, karna semua rindu itu sangat sakit ketika tidak dilepas.
Bagaimana mau melepas rindu jika dia yang kamu rindukan belum halal bagimu? Maka benar sekali jika rindu itu sangat menyakitkan karna tidak pernah tersampaikan. Atau mungkin kamu seorang yang mudah menyatakan rindu pada lawan jenis mu yang belum halal bagimu?
Aahh..saya yakin, kamu bukanlah tipe orang yang mudah membuat lawan jenis mu terbuai makna cinta dari syetan. Karna kamu tahu bahwa mendekati Zina pun sudah dilarang.

So..sebisa mungkin kamu harus segera mengobati rindu yang kamu tujukan pada orang yang belum halal bagimu. Caranya :
-*- Mengadulah padaNya, pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mintalah kesembuhan padaNya, karna hanya Dia lah yang mampu menyembuhkan luka yang menganga dalam hatimu. Karna hanya Dia lah yang selalu memahamimu, percayalah.

-*- Jagalah pandanganmu, sikapmu, terlebih pada lawan jenismu.
“Katakanlah kepada orang2 laki2 yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya..” (QS An Nur:30)
Pandangamu yang sangat liar justru membuatmu sangat lelah, maka tahanlah pandanganmu pada orang yang belum halal padamu. Karna lewat pandanganmu lah, syetan-syetan memanahkan kesesatannya.
-*- Jauhkan hatimu dari rindu yang mengikat.
Jangan selalu mengingat-ingat dia yang kamu rindukan, yakinkan hatimu, lepaskan ikatan rindumu padanya gantilah dengan ikatan rindu untuk sujud padaNya.

-*- Sibukkan dirimu dengan amalan-amalan yang bermanfaat.
” Sesungguhnya mereka adalah orang2 yang bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami denagn harap dan cemas ” (QS. Al-anbiya : 21)
Tingkatkan kesibukanmu denga dzikir, membaca Quran lebih intensif atau membaca buku yang bemanfaat yang bisa menambah kerinduanmu padaNya bukan padanya.

-*- Menikahlah.
Ini adalah solusi ampuh untuk menghilangkan kegalauanmu pada rasa rindu yang mencekam.  Sehingga rindumu bisa terobati tanpa bekas, bahkan rindu mu menjadi sebuah nilai ibadah...

Subhanallah..
 Pacaran adalah suatu yang biasa dikatakan lumrah dikalangan kedua insan yang tentu berbeda satu sama lain, pengertian dari pacaran itu sendiri banyak, ada yang menyebutkan pacaran adalah suatu komitmen terhadap diri pribadi untuk saling memberi dan menerima, pacaran merupakan proses perkenalan antara lawan jenis untuk merasakan keindahan cinta (waaah lebay), dan ada juga yang menyebutkan pacaran adalah proses menjajakan diri untuk hubungan yang lebih serius (jika kena getahnya ya harus di nikahi kan???). 

Ya banyak memang pengertian dari pacaran itu sendiri yang dilantunkan dengan kalimat-kalimat indah. Coba dech  kita teliti lebih dalam lagi.
  1. Umumnya sich pacaran identik dengan romantisme, gombal tisme, dan keukeh isme, tong kosong nyaring bunyinya, berbohonglah sebanyak-banyaknya dan anggaplah kebohongan itu sebagai keindahan dari sebuah masa pacaran, (wah dah bilang I love u, padahal Gw sendiri ga tau sayang  kagak ma kmu,,,,,) Parah...
  2. Pacaran kepengennya dua duaan…. Wah ngapain aja tuh dua duaan, jika ada yang bilang selama dua duaan Cuma ngobrol aja ah salut dech buat tu orang ,,,, nyatanya banyak di antara saudara2 kita yang berbeda jenis dah dua duan yah ga' tau deh,,, ga perlu di jelasin….
  3. Banyak waktu kita tidak bermanfaat dan tersita begitu aja karena ingin meluangkan waktu buat si dia, syukur2 yang ngerti waktu coba kalo ga…. Yang ada malah sering berantem gara2 kagak ada waktu buat si dia.
  4. pacaran berat di ongkos,. Belum mesti traktir  makan klo laper , belum mesti jalan2 dan belanjain doi kita, belum mesti ngemil bakso ato di food court yang gengsi beli bakso mas jono yang di emperan.
  5. ga' da yang namanya pacaran Islami , klo ada tu orang tidak paham tentang syari’at ,,,  jadi Islam tidak mengajarkan pacaran.

Nah Sodara sekalian Renungkanlah apa yang jadi pengalaman hidup penulis dulu ketika buta tentang syariah… tentu mungkin kalian juga pernah mengalaminya.  
 Aku yang mengaku Aku tanpa Ku tau Siapa Aku ,,,,

Pernah terbersit kata tanpa sebuah tujuan diatas sebuah tuntutan , apa yang harus kita lakukan hari ini seolah tak dapat kita gambarkan di dua hari selanjutnya dan di dua hari sebelumnya, Bukan kah Allah Swt telah punya rencana ????

Apa kita harus bersugesti Jabbariyah dan Sattariah ? 

Tentukan dengan sebuah nalar  dan bandingkan dengan sebuah kelogikaan ? 

Hukum sebab akibat belum tentu berlaku dalam pikiran jenuh kita , kadang kita tak begitu tau akan diri kita sendiri dan jiwa kita berada entah dimana, sebuah tanya yang hanya melirik sebagian kerealitaan hidup , dan cara pandang untuk mencicipi sebuah nyata yang serak.... 

Pernah ingatkah kita ketilka kita mulai terhenyak terajam dengan aturan yang tak sebenarnya ? 
Pernahkah kita nerasakan ludah dan udara yang kita butuhkan ? 
Dan Pernahkah kita mulai terhunus dengan sebuah kata yang berjudul sakarat ? 

Entah darimana datangnya sebuah Ilham yang menentukan KITA SALAH,,,,, 

Dimana Kita tau akan sebuah Kelalain dari Sikap Kita yang menjadi Lukisan Malaikat yang menorehkan Kanvas dengan Guratan Warna-warna Siliput kita.... 

Ikhwan  , Sadarlah dan berfikirlah Jika Ikhwan Cukup Berani Mengkaji Diri 
Akhwat , Menunduklah Ketika Penunjukan SIAPA KAMU 

Kita Renungi Sama-sama..... 
.....

Bila cinta tak mampu kau ungkapkan kepada seseorang...
Cukup cintai ia dalam diam ...


Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
Kau ingin memuliakan dia,..
Dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang,
Kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya.


Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu ...
Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ...


Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ...
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt pilihkan untukmu ...

Ingatkah tentang kisah Fatimah dan ALi ???
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah ...



Karena… 
Dalam diammu tersimpan kekuatan ...
Kekuatan harapan ...
Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yanng berharap padanya ???


Dan jika memang "cinta dalam diammu" itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara dalam kenyataan biarkan ia tetap diam ...


Jika dia memang bukan milikmu,
maka Allah, melalui waktu akan menghapus "cinta dalam diammu" itu dengan memberi rasa yang lebih indah dengan orang yang tepat ...


Biarkan "cinta dalam diammu" itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...

Berikan keistiqomahan Ya Rabb...
Andai semua bisa mengerti tentang perasaanku
Aku akan sangat berbahagia

Andai aku dapat mengatakan semuanya kepadamu
Aku akan sangat gembira

Andai...
Semua hanya perumpamaan yang tak bisa terucapkan dengan kata-kata lisan ku
Semuanya tidak akan pernah menjadi kenyataan
Never... Ever...

Apakah semua ini harus ku simpan dalam-dalam???
Apakah tidak ada kesempatan ku tuk mengungkapkan semuanya???
Andai...
Semua hanyalah perumpamaan yang tak pasti

Tiap hitungan menit dan detik yang terlewati hanyalah sia-sia
Semua tak bisa terungkapkan
Semua diam membisu tanpa ada yang tahu

Aku sendiri berada didalam keheningan dan kebisuan dunia ini
Semua benar-benar berbeda dari yang telah ku duga
Sungguh tiada pernah terfikirkan oleh akal sehat ku

Andai...
Telah meracuni tiap-tiap mereka
Semua perumpamaan yang tak kan ada habisnya...
Aku lelah dengan hal ini

Untuk membuat mata anda tetap sehat dan dapat melihat sesuatu dengan jelas dan jernih baik untuk jarak jauh maupun dekat sebaiknya melakukan hal-hal berikut ini :
1. Menonton Televisi Jangan Terlalu Dekat
Jarak yang aman untuk menonton televisi kalau tidak salah 2 meter untuk TV ukuran 14 inchi. Untuk layar yang lebih lebar otomatis jaraknya lebih jauh. Nonton layar bioskop pun sebaiknya mengambil kursi yang paling belakang.
2. Bekerja / Bermain Komputer Jangan Terlalu Lama
Biasakan memberi waktu dalam beraktivitas di depan layar komputer. Misalnya setiap 15 atau 30 menit sekali beristirahat melihat yang jauh-jauh selama lima sampai sepuluh menit agar mata tidak selalu dalam keadaan tegang karena melihat layar dengan jarak yang sangat dekat.
3. Bermain Video Game Jangan Terlalu Dekat
Anak-anak jaman sekarang banyak yang cuek terhadap kesehatan mata. Ini dapat kita lihat dengan banyak yang main ps / playstation atau video game sejenis lainnya dekat dengan layar TV. Sebaiknya biasakan marahi anak yang bermain game terlalu dekat. Jaraknya mirip dengan poin nomor 1 di atas.
4. Membaca Buku
Jarak yang aman membaca buku adalah 30 cm. Bila terlalu dekat dapat membuat mata tegang dan mengakibatkan rabun jauh dalam jangka panjang. Membaca buku juga tidak boleh sambil tiduran. Penerangan pun juga harus cukup misalnya dengan lampu neon yang terang. Dengan demikian kesehatan mata akan tetap terjaga.
5. Hindari Debu Dan Polusi
Bagi anda yang sering beraktivitas di jalan raya seperti tukang ojek, polisi, polisi cepek, preman, supir angkot, kurir, dan lain sebagainya sebaiknya menggunakan pelindung mata seperti kacamata dan helm yang berkaca. Hindari debu yang masuk ke mata karena bisa membuat mata jadi infeksi dan membuat mata menjadi katarak.
6. Makan Makanan Bergizi, Berserat dan Bervitamin A
Mata butuh asupan zat-zat yang bergizi serta vitamin yang cukup agar dapat menjaga kondisi tetap fit. Biasakan memakan makanan yang berserat dan memiliki kandungan gizi yang cukup. Anda juga dapat mengkonsumsi suplemen atau makanan yang mengandung vitamin A seperti wortel, alpukat, tomat, pepaya, dan lain sebagainya.
Jagalah kesehatan mata Anda agar Anda tidak tersiksa karena harus memakai kacamata terus-menerus. Dengan mata yang sehat Anda punya banyak peluang untuk tembus tes-tes kesehatan yang mengharuskan mata Anda sehat wal'afiat. Hubungi dokter setiap anda punya masalah dengan mata. 

Selamat mencoba.
Oleh:
Dr. Yusuf Qardhawi

Soalan;
Sebuah persoalan yang sedang saya hadapi dan sudah barang tentu juga dihadapi orang lain, yaitu masalah berjabat tangan antara lelaki dengan wanita, khususnya terhadap kerabat yang bukan mahram saya, seperti anak bapa saudara (sepupu) atau anak ibu saudara (sepupu), atau isteri saudara ayah (isteri pakcik) atau isteri saudara ibu (isteri pakcik), atau saudara wanita isteri (ipar) saya, atau wanita-wanita lainnya yang ada hubungan kekerabatan atau persemendaan dengan saya. Lebih-lebih dalam saat-saat tertentu, seperti datang dari bepergian, sembuh dari sakit, balik dari haji atau umrah, atau saat-saat lainnya yang biasanya para kerabat, semenda, tetangga, dan teman-teman lantas menemuinya dan bertahniah (mengucapkan selamat atasnya) dan berjabat tangan antara yang satu dengan yang lain.

Pertanyaan saya, apakah ada nas Al-Qur'an atau As-Sunnah yang mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita, sementara sudah saya sebutkan banyak motivasi kemasyarakatan atau kekeluargaan yang melatarinya, disamping ada rasa saling percaya aman dari fitnah, dan jauh dari rangsangan syahwat. Sedangkan kalau kita tidak mau berjabat tangan, maka mereka memandang kita orang-orang beragama ini kuno dan terlalu ketat, merendahkan wanita, selalu berprasangka buruk kepadanya, dan sebagainya.

Apabila ada dalil syar'inya, maka kami akan menghormatinya dengan tidak ragu-ragu lagi, dan tidak ada yang kami lakukan kecuali mendengar dan mematuhi, sebagai konsekuensi keimanan kami kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan jika hanya semata-mata hasil ijtihad fuqaha-fuqaha kita terdahulu, maka adakalanya fuqaha-fuqaha kita sekarang boleh berbeda pendapat dengannya, apabila mereka mempunyai ijtihad yang benar, dengan didasarkan pada tuntutan peraturan yang senantiasa berubah dan kondisi kehidupan yang selalu berkembang. Kerana itu, saya menulis surat ini kepada Ustaz dengan harapan Ustadz berkenan membahasnya
sampai ke akar-akarnya berdasarkan Al-Qur'anul Karim dan Al-Hadits asy-Syarif. Kalau ada dalil yang melarang sudah tentu kami akan berhenti; tetapi jika dalam hal ini terdapat kelapangan, maka kami tidak mempersempit kelapangan-kelapangan yang diberikan Allah kepada kami, lebih-lebih sangat diperlukan dan bisa menimbulkan "bencana" kalau tidak dipenuhi. Saya berharap kesibukan-kesibukan Ustaz yang banyak itu tidak menghalangi Ustadz untuk menjawab surat saya ini, sebab - sebagaimana saya katakan di muka - persoalan ini bukan persoalan saya seorang, tetapi mungkin persoalan berjuta-juta orang seperti saya.

Semoga Allah melapangkan dada Ustadz untuk menjawab, dan memudahkan kesempatan bagi Ustadz untuk menahkik masalah, dan mudah-mudahan Dia menjadikan Ustadz bermanfaat.
 
Jawaban;
Tidak perlu saya sembunyikan kepada saudara penanya bahwa masalah hukum berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan - yang saudara tanyakan itu merupakan masalah yang amat penting, dan untuk menahkik hukumnya tidak bisa dilakukan dengan seenaknya. Ia memerlukan kesungguhan dan pemikiran yang optimal dan ilmiah sehingga si mufti harus bebas dari tekanan pikiran orang lain atau pikiran yang telah diwarisi dari masa-masa lalu, apabila tidak didapati acuannya dalam Al Qur'an dan As-Sunnah sehingga argumentasi-argumentasinya dapat didiskusikan untuk memperoleh pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran menurut pandangan seorang faqih, yang didalam pembahasannya hanya mencari redha Allah, bukan memperturutkan hawa nafsu.

Sebelum memasuki pembahasan dan diskusi ini, saya ingin mengeluarkan dua buah gambaran dari lapangan perbezaan pendapat ini, yang saya percaya bahwa hukum kedua gambaran itu tidak diperselisihkan oleh fuqaha-fuqaha terdahulu, menurut pengetahuan saya. Kedua gambaran itu ialah:

Pertama, diharamkan berjabat tangan dengan wanita apabila disertai dengan syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satu pihak, laki-laki atau wanita (kalau keduanya dengan syahwat sudah barang tentu lebih terlarang lagi; penj.) atau dibelakang itu dikhawatirkan terjadinya fitnah, menurut dugaan yang kuat. Ketetapan diambil berdasarkan pada hipotesis bahwa menutup jalan menuju kerusakan itu adalah wajib, lebih-lebih jika telah tampak tanda-tandanya dan tersedia sarananya. Hal ini diperkuat lagi oleh apa yang dikemukakan para ulama bahwa bersentuhan kulit antara lakilaki dengannya – yang pada asalnya mubah itu - bisa berubah menjadi haram apabila disertai dengan syahwat atau dikhawatirkan terjadinya fitnah,1 khususnya dengan anak perempuan si istri (anak tiri), atau saudara sepersusuan, yang perasaan hatinya sudah barang tentu tidak sama dengan perasaan hati ibu kandung, anak kandung, saudara wanita sendiri, bibi dari ayah atau ibu, dan sebagainya.

Kedua, kemurahan (diperbolehkan) berjabat tangan dengan wanita tua yang sudah tidak punya gairah terhadap laki-laki, demikian pula dengan anak-anak kecil yang belum mempunyai syahwat terhadap laki-laki, karena berjabat tangan dengan mereka itu aman dari sebab-sebab fitnah. Begitu pula bila si laki-laki sudah tua dan tidak punya gairah terhadap wanita. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Abu Bakar r.a. bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan beberapa orang wanita tua, dan Abdullah bin Zubair mengambil pembantu wanita tua untuk merawatnya, maka wanita itu mengusapnya dengan tangannya dan membersihkan kepalanya
dari kutu. 2 Hal ini sudah ditunjukkan Al-Qur'an dalam membicarakan perempuan-perempuan tua yang sudah berhenti (dari haid dan mengandung), dan tiada gairah terhadap laki-laki, dimana mereka diberi keringanan dalam beberapa masalah pakaian yang tidak diberikan kepada yang lain:
"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (an-Nur: 60) Dikecualikan pula laki-laki yang tidak memiliki gairah terhadap wanita dan anak-anak kecil yang belum muncul hasrat seksualnya. Mereka dikecualikan dari sasaran larangan terhadap wanita-wanita mukminah dalam hal menampakkan perhiasannya.
"... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita ..."(an-Nur: 31)
Selain dua kelompok yang disebutkan itulah yang menjadi tema pembicaraan dan pembahasan serta memerlukan pengkajian dan tahkik. Golongan yang mewajibkan wanita menutup seluruh tubuhnya hingga wajah dan telapak tangannya, dan tidak menjadikan wajah dan tangan ini sebagai yang dikecualikan oleh ayat:
"... Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya ..." (an-Nur: 31) Bahkan mereka menganggap bahwa perhiasan yang biasa tampak itu adalah pakaian luar seperti baju panjang, mantel, dan sebagainya, atau yang tampak karena darurat seperti tersingkap karena ditiup angin kencang dan sebagainya. Maka tidak mengherankan lagi bahwa berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita menurut mereka adalah haram. Sebab, apabila kedua telapak tangan itu wajib ditutup maka
melihatnya adalah haram; dan apabila melihatnya saja haram, apa lagi menyentuhnya. Sebab, menyentuh itu lebih berat daripada melihat, karena ia lebih merangsang, sedangkan tidak ada jabat tangan tanpa bersentuhan kulit. Tetapi sudah dikenal bahwa mereka yang berpendapat demikian adalah golongan minoritas, sedangkan mayoritas fuqaha dari kalangan sahabat, tabi'in, dan orang-orang sesudah mereka berpendapat bahwa yang dikecualikan dalam ayat "kecuali yang biasa tampak daripadanya" adalah wajah dan kedua (telapak) tangan. Maka apakah dalil mereka untuk mengharamkan berjabat tangan yang tidak disertai syahwat? Sebenarnya saya telah berusaha mencari dalil yang memuaskan yang secara tegas menetapkan demikian, tetapi tidak saya temukan. Dalil yang terkuat dalam hal ini ialah menutup pintu fitnah (saddudz-dzari'ah), dan alasan ini dapat diterima tanpa ragu-ragu lagi ketika syahwat tergerak, atau karena takut fitnah bila telah tampak tanda-tandanya. Tetapi dalam kondisi aman - dan ini sering terjadi - maka dimanakah letak keharamannya? Sebagian ulama ada yang berdalil dengan sikap Nabi saw. Yang tidak berjabat tangan dengan perempuan ketika beliau membai'at mereka pada waktu penaklukan Mekah yang terkenal itu, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mumtahanah. Tetapi ada satu muqarrar (ketetapan) bahwa apabila Nabi saw. meninggalkan suatu urusan, maka hal itu tidak menunjukkan - secara pasti - akan keharamannya. Adakalanya beliau meninggalkan sesuatu karena haram, adakalanya karena makruh, adakalanya hal itu kurang utama, dan adakalanya hanya semata-mata karena beliau tidak berhasrat kepadanya, seperti beliau tidak memakan daging biawak padahal daging itu mubah. Kalau begitu, sikap Nabi saw. tidak berjabat tangan dengan wanita itu tidak dapat dijadikan dalil untuk menetapkan keharamannya, oleh karena itu harus ada dalil lain bagi orang yang berpendapat demikian. Lebih dari itu, bahwa masalah Nabi saw. tidak berjabat tangan dengan kaum wanita pada waktu bai'at itu belum disepakati, karena menurut riwayat Ummu Athiyah al-Anshariyah r.a. bahwa Nabi saw. pernah berjabat tangan dengan wanita pada waktu bai'at, berbeda dengan riwayat dari Ummul Mukminin Aisyah r.a. dimana beliau mengingkari hal itu dan bersumpah menyatakan tidak terjadinya jabat tangan itu. Imam Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari Aisyah bahwa Rasulullah saw. menguji wanita-wanita mukminah yang berhijrah dengan ayat ini, yaitu firman Allah: "Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dengan kaki mereka3 dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al-Mumtahanah: 12) Aisyah berkata, "Maka barangsiapa di antara wanita-wanita beriman itu yang menerima syarat tersebut, Rasulullah saw. berkata kepadanya, "Aku telah membai'atmu - dengan perkataan saja - dan demi Allah tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan wanita dalam bai'at itu; beliau tidak membai'at mereka melainkan dengan mengucapkan, 'Aku telah membai'atmu tentang hal itu.'" 4 Dalam mensyarah perkataan Aisyah "Tidak, demi Allah ...," al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari sebagai berikut: Perkataan itu berupa sumpah untuk menguatkan berita, dan dengan perkataannya itu seakan-akan Aisyah hendak menyangkal berita yang diriwayatkan dari Ummu Athiyah. Menurut riwayat Ibnu Hibban, al-Bazzar, ath-Thabari, dan Ibnu Mardawaih, dari (jalan) Ismail bin Abdurrahman dari neneknya, Ummu Athiyah, mengenai kisah bai'at, Ummu Athiyah berkata: "Lalu Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah, kemudian beliau berucap, 'Ya Allah, saksikanlah.'" Demikian pula hadits sesudahnya - yakni sesudah hadits yang tersebut dalam al-Bukhari - dimana Aisyah mengatakan: "Seorang wanita menahan tangannya" Memberi kesan seolah-olah mereka melakukan bai'at dengan tangan mereka. Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata: "Untuk yang pertama itu dapat diberi jawaban bahwa
mengulurkan tangan dari balik hijab mengisyaratkan telah terjadinya bai'at meskipun tidak sampai berjabat tangan... Adapun untuk yang kedua, yang dimaksud dengan menggenggam tangan itu ialah menariknya sebelum bersentuhan... Atau bai'at itu terjadi dengan menggunakan lapis tangan. Abu Daud meriwayatkan dalam al-Marasil dari asy-Sya'bi bahwa Nabi saw. ketika membai'at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, "Aku tidak berjabat dengan wanita." Dalam Maghazi Ibnu Ishaq disebutkan bahwa Nabi saw. memasukkan tangannya ke dalam bejana dan wanita itu juga memasukkan tangannya bersama beliau. Ibnu Hajar berkata: "Dan boleh jadi berulang-ulang, yakni peristiwa bai'at itu terjadi lebih dari satu kali, di antaranya ialah bai'at yang terjadi di mana beliau tidak menyentuh tangan wanita sama sekali, baik dengan menggunakan lapis maupun tidak, beliau membai'at hanya dengan perkataan saja, dan inilah yang diriwayatkan oleh Aisyah. Dan pada kesempatan yang lain beliau tidak berjabat tangan dengan wanita dengan menggunakan lapis, dan inilah yang diriwayatkan oleh asy-Sya'bi." Diantaranya lagi ialah dalam bentuk seperti yang disebutkan Ibnu Ishaq, iaitu memasukkan tangan kedalam bejana. Dan ada lagi dalam bentuk seperti yang ditunjukkan oleh perkataan Ummu Athiyah, yaitu berjabat tangan secara langsung. Diantara alasan yang memperkuat kemungkinan berulang-ulangnya bai'at itu ialah bahwa Aisyah membicarakan bai'at wanita-wanita mukminah yang berhijrah setelah terjadinya peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, sedangkan Ummu Athiyah - secara lahiriah - membicarakan yang lebih umum daripada itu dan meliputi bai'at wanita mukminah secara umum, termasuk didalamnya wanita-wanita Anshar seperti Ummu Athiyah si perawi hadits. Karena itu, Imam Bukhari memasukkan hadits Aisyah di bawah bab "Idzaa Jaa aka al-Mu'minaat Muhaajiraat," sedangkan hadits Ummu Athiyah dimasukkan dalam bab "Idzaa Jaa aka al- Mu'minaat Yubaayi'naka." Maksud pengutipan semua ini ialah bahwa apa yang dijadikan acuan oleh kebanyakan orang yang mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan - yaitu bahwa Nabi saw. tidak berjabat tangan dengan wanita - belumlah di sepakati. Tidak seperti sangkaan orangorang yang tidak merujuk kepada sumber-sumber aslinya. Masalah ini bahkan masih diperselisihkan sebagaimana yang telah saya kemukakan. Sebagian ulama sekarang ada yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita dengan mengambil dalil riwayat Thabrani dan Baihaqi dari Ma'qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau
bersabda: "Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik
daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya."5 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalill: 
1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, "Perawi-perawinya adalah
perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih."
Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih
ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya (inqitha') atau terdapat 'illat (cacat) yang samar.
Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur,
sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk
mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.
2. Fuqaha Hanafiyah dan sebagian fuqaha Malikiyah mengatakan bahwa pengharaman itu tidak
dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath'i yang tidak ada kesamaran padanya, seperti Al-Qur'anul
Karim serta hadits-hadits mutawatir dan masyhur. Adapun jika ketetapan atau kesahihannya sendiri
masih ada kesamaran, maka hal itu tidak lain hanyalah menunjukkan hukum makruh, seperti haditshadits
ahad yang sahih. Maka bagaimana lagi dengan hadits yang diragukan kesahihannya?
3. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu
masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas. Kalimat "menyentuh kulit wanita yang tidak
halal baginya" itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat,
sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata al-mass (massa - yamassu -
mass: menyentuh) cukup digunakan dalam nash-nash syar'iyah seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah
dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:
a. Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan iologis (jima') sebagaimana diriwayatkan
Ibnu Abbas dalam enafsirkan firman Allah: "Laamastum an-Nisat" (Kamu enyentuh wanita). Ibnu
Abbas berkata, "Lafal al-lams, l-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur'an dipakai sebagai iasan
untuk jima' (hubungan seksual). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur'an yang menggunakan kata al-mass
menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman Allah yang diucapkan Maryam:
"Betapa mungkin aku akan mempunyai anak padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang lakilaki
pun ..." (Ali Imran:47)
"Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menyentuh mereka..." (al-Baqarah: 237)
Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw. mendekati istri-istrinya tanpa menyentuhnya ....
b. Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah kategori jima', seperti mencium,
memeluk, merangkul, dan lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima' (hubungan seksual). Ini
diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam menafsirkan makna kata mulaamasah.
Al-Hakim mengatakan dalam "Kitab ath-Thaharah" dalam al-Mustadrak 'al a ash-Shahihaini
sebagai berikut :
Imam Bukhari dan Muslim telah sepakat mengeluarkan hadits-hadits yang berserakan dalam dua
musnad yang sahih yang menunjukkan bahwa al-mass itu berarti sesuatu (tindakan) dibawah jima':
(1) Diantaranya hadits Abu Hurairah:
"Tangan, zinanya ialah menyentuh..."
(2) Hadits Ibnu Abbas:
"Barangkali engkau menyentuhnya...?"
(3) Hadits lbnu Mas'ud:
"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang)..."6
Al-Hakim berkata, "Dan masih ada beberapa hadits sahih pada mereka (Bukhari dan Muslim)
mengenai tafsir dan lainnya ..."
Kemudian al-Hakim menyebutkan diantaranya:
(4) Dari Aisyah, ia berkata:
"Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw mengelilingi kami semua - yakni istriistrinya
- lalu beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah jima'. Maka apabila beliau
tiba di rumah istri yang waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ."
(5) Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Au laamastum an-nisa" (atau kamu menyentuh wanita)
ialah tindakan dibawah jima', dan untuk ini wajib wudhu."
(6) Dan dari Umar, ia berkata, "Sesungguhnya mencium itu termasuk al-lams, oleh sebab itu
berwudhulah karenanya."7
Berdasarkan nash-nash yang telah disebutkan itu, maka mazhab Maliki dan mazhab Ahmad
berpendapat bahwa menyentuh wanita yang membatalkan wudhu itu ialah yang disertai dengan
syahwat. Dan dengan pengertian seperti inilah mereka menafsirkan firman Allah, "au
laamastum an-nisa'" (atau kamu menyentuh wanita).
Karena itu, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya melemahkan pendapat orang
yang menafsirkan lafal "mulaamasah" atau "al-lams" dalam ayat tersebut dengan sematamata
bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.
Diantara yang beliau katakan mengenai masalah ini seperti berikut:
Adapun menggantungkan batalnya wudhu dengan menyentuh semata-mata (persentuhan kulit,
tanpa syahwat), maka hal ini bertentangan dengan ushul, bertentangan dengan ijma' sahabat,
bertentangan dengan atsar, serta tidak ada nash dan
qiyas bagi yang berpendapat begitu.
Apabila lafal al-lams (menyentuh) dalam firman Allah (atau jika kamu menyentuh wanita ...) itu
dimaksudkan untuk menyentuh dengan tangan atau mencium dan sebagainya - seperti yang
dikatakan Ibnu Umar dan lainnya - maka sudah dimengerti bahwa ketika hal itu disebutkan dalam
Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang dimaksud ialah yang dilakukan dengan bersyahwat, seperti
firman Allah dalam ayat i'tikaf: "... Dan janganlah kamu me-mubasyarah mereka ketika kamu
sedang i'tikaf dalam masjid..." (al-Baqarah: 187)
Mubasyarah (memeluk) bagi orang yang sedang i'tikaf dengan tidak bersyahwat itu tidak
diharamkan, berbeda dengan memeluk yang disertai syahwat.
Demikian pula firman Allah: "Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu
menyentuh mereka ..." (al-Baqarah: 237). Atau dalam ayat sebelumnya disebutkan:
"Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum
kamu menyentuh mereka ..." (al-Baqarah: 236).
Karena seandainya si suami hanya menyentuhnya dengan sentuhan biasa tanpa syahwat,
maka tidak wajib iddah dan tidak wajib membayar mahar secara utuh serta tidak menjadikan
mahram karena persemendaan menurut kesepakatan ulama.
Barangsiapa menganggap bahwa lafal au laamastum an-nisa' mencakup sentuhan biasa
meskipun tidak dengan bersyahwat, maka ia telah menyimpang dari bahasa Al-Qur'an, bahkan
menyimpang dari bahasa manusia sebagaimana yang sudah dikenal. Sebab, jika disebutkan
lafal al-mass (menyentuh) yang diiringi dengan laki-laki dan perempuan, maka tahulah dia bahwa
yang dimaksud ialah menyentuh dengan bersyahwat, sebagaimana bila disebutkan lafal alwath'u
(yang asal artinya "menginjak") yang diikuti dengan kata-kata laki-laki dan perempuan,
maka tahulah ia bahwa yang dimaksud ialah al-wath'u dengan kemaluan (yakni bersetubuh),
bukan menginjak dengan kaki."8
Di tempat lain lbnu Taimiyah menyebutkan bahwa para sahabat berbeda pendapat mengenai maksud
firman Allah au laamastum annisa'. Ibnu Abbas dan segolongan sahabat berpendapat bahwa yang
dimaksud ialah jima'. dan mereka berkata, "Allah itu Pemalu dan Maha Mulia. Ia membuat
kinayah untuk sesuatu sesuai dengan yang Ia kehendaki."
Beliau berkata, "Ini yang lebih tepat diantara kedua pendapat tersebut."
Bangsa Arab dan Mawali juga berbeda pendapat mengenai makna kata al-lams, apakah ia berarti
jima' atau tindakan dibawah jima'. Bangsa Arab mengatakan, yang dimaksud adalah jima'.
Sedangkan Mawali (bekas-bekas budak yang telah dimerdekakan) berkata: yang dimaksud ialah
tindakan di bawah jima' (pra-hubungan biologis). Lalu mereka meminta keputusan kepada Ibnu
Abbas, lantas Ibnu Abbas membenarkan bangsa Arab dan menyalahkan Mawali.9
Maksud dikutipnya semua ini ialah untuk kita ketahui bahwa kata-kata al-mass atau al-lams
ketika digunakan dalam konteks laki-laki dan perempuan tidaklah dimaksudkan dengan sematamata
bersentuhan kulit biasa, tetapi yang dimaksud ialah mungkin jima' (hubungan seks) atau
pendahuluannya seperti mencium, memeluk, dan sebagainya yang merupakan sentuhan disertai
syahwat dan kelezatan.
Kalau kita perhatikan riwayat yang sahih dari Rasulullah saw., niscaya kita jumpai sesuatu yang
menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa
disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah
dilakukan oleh Rasulullah saw., sedangkan pada dasarnya perbuatan Nabi saw. itu adalah tasyri'
dan untuk diteladani:
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw. itu suri teladan yang baik bagimu..." (al-Ahzab:
21)
Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya pada "Kitab al-Adab" dari Anas bin Malik r.a., ia
berkata:
"Sesungguhnya seorang budak wanita diantara budak-budak penduduk Madinah memegang
tangan Rasulullah saw., lalu membawanya pergi ke mana ia suka."
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Anas juga, ia berkata:
"Sesungguhnya seorang budak perempuan dari budak-budak penduduk Madinah datang, lalu ia
memegang tangan Rasulullah saw., maka beliau tidak melepaskan tangan beliau dari tangannya
sehingga dia membawanya perg ke mana ia suka."
Ibnu Majah juga meriwayatkan hal demikian.
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari:
"Yang dimaksud dengan memegang tangan disini ialah kelazimannya, yaitu kasih sayang dan
ketundukan, dan ini meliputi bermacam-macam kesungguhan dalam tawadhu', karena
disebutkannya perempuan bukan laki-laki, dan disebutkannya
budak bukan orang merdeka, digunakannya kata-kata umum
dengan lafal al-imaa' (budak-budak perempuan), yakni budak perempuan yang mana pun, dan
dengan perkataan haitsu syaa'at (kemana saja ia suka), yakni ke tempat mana saja. Dan
ungkapan dengan "mengambil/memegang tangannya" itu menunjukkan apa saja yang
dilakukannya, sehingga meskipun si budak perempuan itu ingin pergi ke luar kota Madinah dan dia
meminta kepada beliau untuk membantu memenuhi keperluannya itu niscaya beliau akan
membantunya.
Ini merupakan dalil yang menunjukkan betapa tawadhu'nya Rasulullah saw. dan betapa
bersihnya beliau dari sikap sombong."10
Apa yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar itu secara garis besar dapat diterima, tetapi beliau
memalingkan makna memegang tangan dari makna lahiriahnya kepada kelazimannya yang
berupa kasih sayang dan ketundukan, tidak dapat diterima, karena makna lahir dan kelaziman itu
adalah dua hal yang dimaksudkan secara bersama-sama, dan pada asalnya perkataan itu harus
diartikan menurut lahirnya, kecuali jika ada dalil atau indikasi tertentu yang memalingkannya dari
makna lahir. Sedangkan dalam hal ini saya tidak menjumpai faktor yang mencegah atau melarang
dipakainya makna lahir itu, bahkan riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan "maka beliau
tidak melepaskan tangan beliau dari tangannya sehingga ia membawa beliau pergi kemana saja ia
suka" menunjukkan dengan jelas bahwa makna lahir itulah yang dimaksud. Sungguh termasuk
memberat-beratkan diri dan perbuatan serampangan jika keluar dari makna lahir ini.
Lebih banyak dan lebih mengena lagi apa yang diriwayatkan dalam Shahihain dan kitab-kitab
Sunan dari Anas "bahwa Nabi saw. tidur siang hari di rumah bibi Anas yang bernama Ummu
Haram binti Milhan istri Ubadah bin Shamit, dan beliau tidur di sisi Ummu Haram dengan
meletakkan kepala beliau di pangkuan Ummu Haram, dan Ummu Haram membersihkan kepala
beliau dari kutu ..."
Ibnu Hajar dalam menjelaskan hadits ini mengatakan, "Hadits ini memperbolehkan tamu tidur
siang di rumah orang lain (yakni tuan rumah) dengan memenuhi persyaratannya, seperti dengan
adanya izin dan aman dari fitnah, dan bolehnya wanita asing (bukan istri) melayani tamu dengan
menghidangkan makanan, menyediakan keperluannya, dan sebagainya.
Hadits ini juga memperbolehkan wanita melayani tamunya dengan membersihkan kutu
kepalanya. Tetapi hal ini menimbulkan kemusykilan bagi sejumlah orang. Maka Ibnu Abdil Barr
berkata, "Saya kira Ummu Haram itu dahulunya menyusui Rasulullah saw. (waktu kecil), atau
saudaranya yaitu Ummu Sulaim, sehingga masing-masing berkedudukan "sebagai ibu susuan"
atau bibi susuan bagi Rasulullah saw.. Karena itu,
beliau tidur di sisinya, dan dia lakukan terhadap Rasulullah apa yang layak dilakukan oleh mahram."
Selanjutnya Ibnu Abdil Barr membawakan riwayat dengan sanadnya yang menunjukkan
bahwa Ummu Haram mempunyai hubungan mahram dengan Rasul dari jurusan bibi (saudara
ibunya), sebab ibu Abdul Muthalib, kakek Nabi, adalah dari Bani Najjar ...
Yang lain lagi berkata, "Nabi saw. itu maksum (terpelihara dari dosa dan kesalahan). Beliau
mampu mengendalikan hasratnya terhadap istrinya, maka betapa lagi terhadap wanita lain
mengenai hal-hal yang beliau disucikan daripadanya? Beliau suci dari perbuatan-perbuatan
buruk dan perkataan-perkataan kotor, dan ini termasuk kekhususan beliau."
Tetapi pendapat ini disangkal oleh al-Qadhi 'Iyadh dengan argumentasi bahwa kekhususan itu
tidak dapat ditetapkan dengan sesuatu yang bersifat kemungkinan. Tetapnya kemaksuman
beliau memang dapat diterima, tetapi pada dasarnya tidak ada kekhususan dan boleh
meneladani beliau dalam semua tindakan beliau, sehingga ada dalil yang menunjukkan
kekhususannya.
Al-Hafizh ad-Dimyati mengemukakan sanggahan yang lebih keras lagi terhadap orang yang
mengatakan kemungkinan pertama, yaitu anggapan tentang adanya hubungan kemahraman
antara Nabi saw. dengan Ummu Haram. Beliau berkata:
"Mengigau orang yang menganggap Ummu Haram sebagai salah seorang bibi Nabi saw., baik
bibi susuan maupun bibi nasab. Sudah dimaklumi, orang-orang yang menyusukan beliau tidak ada
seorang pun di antara mereka yang berasal dari wanita
Anshar selain Ummu Abdil Muthalib, yaitu Salma binti Amr bin Zaid bin Lubaid bin Hirasy bin
Amir bin Ghanam bin Adi bin an-Najjar; dan Ummu Haram adalah binti Milhan bin Khalid bin Zaid
bin Haram bin Jundub bin Amir tersebut. Maka nasab Ummu Haram tidak bertemu dengan nasab
Salma kecuali pada Amir bin Ghanam, kakek mereka yang sudah jauh ke atas. Dan hubungan bibi
(yang jauh) ini tidak menetapkan kemahraman, sebab ini
adalah bibi majazi, seperti perkataan Nabi saw. Terhadap Sa'ad bin Abi Waqash, "Ini pamanku"
karena Sa'ad dari Bani Zahrah, kerabat ibu beliau Aminah, sedangkan Sa'ad bukan saudara
Aminah, baik nasab maupun susuan."
Selanjutnya beliau (Dimyati) berkata, "Apabila sudah tetap yang demikian, maka terdapat riwayat
dalam ash-Shahlh yang menceritakan bahwa Nabi saw. tidak pernah masuk ke tempat wanita
selain istri-istri beliau, kecuali kepada Ummu Sulaim. Lalu beliau ditanya mengenai masalah itu,
dan beliau menjawab, 'Saya kasihan kepadanya, saudaranya terbunuh dalam peperangan bersama
saya.' Yakni Haram bin Milhan, yang
terbunuh pada waktu peperangan Bi'r Ma'unah."
Apabila hadits ini mengkhususkan pengecualian untuk Ummu Sulaim, maka demikian pula
halnya dengan Ummu Haram tersebut. Karena keduanya adalah bersaudara dan hidup
didalam satu rumah, sedangkan Haram bin Milhan adalah saudara mereka berdua. Maka 'illat
(hukumnya) adalah sama di antara keduanya, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar.
Dan ditambahkan pula kepada 'illat tersebut bahwa Ummu Sulaim adalah ibu Anas, pelayan
Nabi saw., sedangkan telah berlaku kebiasaan pergaulan antara pelayan, yang dilayani, serta
keluarganya, serta ditiadakan kekhawatiran yang terjadi di antara orang-orang luar.
Kemudian ad-Dimyati berkata, "Tetapi hadits itu tidak menunjukkan terjadinya khalwat antara
Nabi saw. dengan Ummu Haram, kemungkinan pada waktu itu disertai oleh anak, pembantu,
suami, atau pendamping."
Ibnu Hajar berkata, "Ini merupakan kemungkinan yang kuat, tetapi masih belum dapat
menghilangkan kemusykilan dari asalnya, karena masih adanya mulamasah (persentuhan) dalam
membersihkan kutu kepala, demikian pula tidur di pangkuan."
Al-Hafizh berkata, "Sebaik-baik jawaban mengenai masalah ini ialah dengan menganggapnya
sebagai kekhususan, dan hal ini tidak dapat ditolak oleh keberadaanya yang tidak ditetapkan kecuali
dengan dalil, karena dalil mengenai hal ini sudah jelas."11
Tetapi saya tidak tahu mana dalilnya ini, samar-samar ataukah jelas?
Setelah memperhatikan riwayat-riwayat tersebut, maka yang mantap dalam hati saya adalah bahwa
semata-mata bersentuhan kulit tidaklah haram. Apabila didapati sebab-sebab yang menjadikan
percampuran (pergaulan) seperti yang terjadi antara Nabi saw. dengan Ummu Haram dan
Ummu Sulaim serta aman dari fitnah bagi kedua belah pihak, maka tidak mengapalah berjabat
tangan antara laki-laki dengan perempuan
ketika diperlukan, seperti ketika datang dari perjalanan jauh, seorang kerabat laki-laki
berkunjung kepada kerabat wanita yang bukan mahramnya atau sebaliknya, seperti anak
perempuan paman atau anak perempuan bibi baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, atau istri
paman, dan sebagainya, lebih-lebih jika pertemuan itu setelah lama tidak berjumpa.
Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya tekankan:
Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan
apabila tidak disertai dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah
terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya
(apa lagi keduanya; penj.) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.
Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi - yaitu tiadanya syahwat dan aman dari
fitnah - meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti
bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat
tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.
Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu
tidak terpenuhi.
Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, seperti yang disebutkan dalam
pertanyaan di atas, yaitu dengan kerabat atau semenda (besan) yang terjadi hubungan yang erat
dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung
pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw. - tidak
ada riwayat kuat yang menyebutkan bahwa beliau pernah berjabat tangan dengan wanita lain
(bukan kerabat atau tidak mempunyai hubungan yang erat).
Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah - yang komitmen pada agamanya -
ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan
barulah ia menjabat tangannya.
Saya tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa
telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah
mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.
Wallahu a'lam.
Catatan kaki:
1 Lihat al-Ikhtiar li Mukhtar fi Fiqhil Hanafyah, 4: 155.
2 Ibid., 4: 156-157
3 Perbuatan yang mereka ada-adakan antara tangan dengan kaki mereka itu maksudnya ialah
mengadakan pengakuan-pengakuan palsu mengenai hubungan antara laki-laki dengan wanita seperti
tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si Fulan bukan anak suaminya, dan sebagainya. (Al-Qur'an
dan Terjemahannya, catatan kaki nomor 1473; penj.)
4 HR Bukhari dalam sahihnya, dalam "Kitab Tafsir Surat al-Mumtahanah," Bab "Idzaa Jaa'aka al-
Mu'minaatu Muhaajiraat."
5 Al-Mundziri berkata dalam at-Targhib: "Perawi-perawi Thabrani adalah orang-orang tepercaya,
perawi-perawi yang sahih."
6 Beliau (al-Hakim) mengisyaratkan kepada riwayat asy-Syaikhani dan lainnya dan hadits Ibnu
Maswud, dan dalam sebagian riwayat-riwayatnya: Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw.
Lalu dia mengatakan bahwa dia telah berbuat sesuatu terhadap wanita, mungkin menciumnya,
menyentuh dengan tangannya, atau perbuatan lainnya, seakan-akan ia menanyakan kafaratnya. Lalu
Allah menurunkan ayat (yang artinya), "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan dosa perbuatan-perbuatan yang buruk..." (Hud: 114) (HR Muslim dengan lafal ini
dalam "Kitab at-Taubah," nomor 40)
7 Lihat, al-Mustadrak, 1: 135.
8 Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, terbitan ar-Riyadh, jilid 21, hlm. 223-224.
9 Ibid.
10 Fathul Bari, juz 13.
11 Fathul Bari 13: 230-231. dengan beberapa perubahan susunan redaksional
Pacar dinyata atau maya sama aja, di jaman modern seperti ini kita juga akan dihadapkan dengan kehidupan modern pula. Jangan menyepelekan hubungan dunia maya karena dari sinilah akan muncul gaya hidup baru yaitu flirting cyber... (waduh jempolku keseleo nulis English) hehehe, dimana bermunculan istilah-istilah baru yaitu, CS atau PS yang tidak bisa dipungkiri bahwa semua itu memberikan kenikmatan tersendiri, bahasan tentang ini pernah di ulas di GOOGLE, coba aja cari disana. Manusia dimasa yang akan datang bisa lebih banyak meluangkan waktunya di alam maya atau cyber, ini adalah awal dari kehidupan baru bagi umat manusia modern,,,
Orang yang pacaran di dunia cyber bukan berarti dia g' laku di dunia nyata, itu pendapat yang kurang bukti karena g' semua yang pacaran di cyber bertampang jelek. Aku pernah liat info di TV bahwa ada seorang artis yang menikah dengan orang Belanda berawal dari chatting, apa mungkin artis itu jg g' laku ??? Ckakakaka,,,
Banyak alasan kenapa orang banyak memilih cinta cyber:
1. Dinyata terlalu sibuk, g' mau pusing dengan pacar yang merepotkan.
2. Ingin cari sensasi.
3. Kecewa dengan pacar nyata.
4. Ingin mendapatkan pasangan terbaik.
5. Bisa memilih tanpa ada adu fisik (biasanya cow).
6. Ingin dapat selingkuhan.
7. Pacaran tanpa banyak modal.
8. Praktis.
9. Kalau emang serius bisa ketemuan langsung.
10. Mengikuti era globalisasi.

Sebagai orang modern qta harus berpikir modern.
<= (belajar ngisi ceramah)
heheheh ^_^

Puisi ini sengaja ku buatkan khusus tuk teman ku Surya, makluuumm,,... di request khusus dari dia... hehehe
Katanya sich... cinta nya itu terpendam kepada seorang cwe yg dia udah kenal lama, namun gx ada keberanian tuk menyatakannya... maaf yea agak telat dikit ni Sur puisinya, padahal qmu requestnya dh lama kn...hmm mending langsung ke puisinya ajja yea,,, hehehehe
lw kurang bagus, harap maklum karena baru pertama kali aq berada dalam sudut pandang pengarang sebagai cwo... hhehehe


Met Menikmati sambil membacanya...
ckckckck

Indah ku lihat dirimu yang duduk sendirian disana
Ku menatapmu dari kejauhan
Hanya mampu menatapmu tanpa bisa berkata-kata
Karena kau telah ada yang memiliki


Kita telah saling mengenal dan bersahabat jauh sebelum kau mengenal dia
Namun,,,
Aku tak bisa berkata apa-apa
Aku tak mampu mengungkapkan kata cinta dihadapanmu
Aku hanya bisa diam seribu bahasa disaat kau mulai berjalan ke arahku...


Sungguh aku tiada berdaya...
Cinta yang terpendam benar-benar telah menyiksa diriku
Aku tak ingin menghancurkan hubungan mu dan dirinya
Karena aku tak ingin kau terluka

Rasa cinta ini ku biarkan saja mengalir seperti ini
Cinta yang terpendam cukkuplah hanya aku saja yang merasakannya
Aku ingin melihat kau tersenyum dan tertawa bahagia
Walaupun aku harus meneteskan air mata..
Dan itu air mata bahagia ku karena mu...


Cinta yang terpendam ini akan selalu ku jaga..
Untukmu..

Hanya untukmu..

 

- Copyright © 2013 Puisi Nhae™ - Kurumi Tokisaki - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -